Libas Narkoba dan Segala Problema, Bangkitlah Mahasiswa


KabarPos.Com - Mahasiswa. Jika menyebut kata ini, yang muncul dalam benak adalah orang yang masih muda dan penuh dengan semangat serta mempunyai pemikiran yang kritis.  Tak bisa dipungkiri mahasiswa memang suatu kedudukan yang istimewa, dimana ia telah mempunyai taraf berpikir kaum intelektual namun masih memegang teguh idealismenya tanpa terkukung oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Era sekarang mahasiswa telah menjadi salah satu sasaran dari narkoba yang menjadi cabang dari suatu fenomena besar yang disebut dengan proxy war. Menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, proxy war di Indonesia terjadi melalui beberapa cara, diantaranya narkoba, konflik antar kelompok, maupun terorisme. Dan narkoba merupakan salah satu proxy war yang paling berbahaya dan menjadi bisnis terbesar di Indonesia (BaliTribune, 27/08/2016).

Perlu diketahui juga bahwa pada tahun 2012-2014 tidak kurang dari 5 universitas di Indonesia telah mengalami kasus terkait narkoba (Tempo.co, 18/09/2014). Tentu saja jumlah itu barulah jumlah yang terusut. Sementara kita tahu bahwa kasus narkoba adalah seperti fenomena gunung es, jadi yang muncul saja ke permukaan saja yang terlihat, sebenarnya peredaran yang tidak tertangkap oleh pengawasan apparat juga banyak, seperti dikatakan oleh pengamat hukum Universitas Tanjungpura, Turiman Fachturahman (tribun Pontianak, 30/11/2016).

Melihat fenomen-fenomena yang mengerikan seperti itu terjadi, maka kepolisian dan jajaran pihak kampus pun tidak tinggal diam. Banyak duta-duta anti narkoba yang muncul di kampus-kampus ternama. Bahkan ada juga satgas anti narkoba yang digalakkan di lingkungan kampus, seperti pernyataan Rina salah satu staf Badan Narkotika Nasional (BNN) di sela acara seminar yang bertajuk “Pemberdayaan Satgas Anti Narkoba di Lingkungan Kampus dalam Menciptakan Lingkungan Kampus Bebas Narkoba” yang bertempat di Universitas Ahmad Dahlan. (uad.ac.id,12/11/2014).

Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Timur juga melakukan sejumlah MoU dengan perguruan tinggi negeri dan swasta di Jawa Timur. Hal ini disebabkan para pengedar narkoba saat ini diduga menyasar kalangan mahasiswa. Menurut Arief Prajitno Ketua Forum Silahhturahmi PTN/PTS se Jawa Timur nantinya BNN Jawa Timur juga akan diberikan ruang untuk melakukan seminar tentang bahaya narkoba dan juga tes urin kepada mahasiswa untuk mendeteksi pengguna narkoba (terasjatim.com, 27/01/2017).

Catatan Kritis

 Cara-cara penanggulangan oleh BNN dan kepolisian tersebut juga harus mendapat dukungan yang massive dari golongan mahasiswa. Sudah semestinya mahasiswa sadar akan bahaya narkoba di tengah kehidupan yang serba kapitalisme ini. Orang akan cenderung menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan, walaupun harus merusak generasi muda sekalipun. Mahasiswa harus membangkitkan pemikirannya yang ideologis. Tidak hanya bersantai-santai dan puas dengan nilai IPK yang tinggi. Sudah bukan zamannya mahasiswa rasa anak SMA atau bahkan seperti anak SMP, mahasiswa harus bangkit.

Kesadaran mahasiswa harus diwujudkan dalam kehidupan kampus. Mereka memahami beragam persoalan bangsa dan peduli kepada urusan umat. Jati diri mahasiswa sebagai agen perubahan harus betul-betul diwujudkan. Tak hanya menjadi singa dalam mata kuliah, tapi menjadi singa kehidupan pemberi solusi demi melibas segala persoalan.

Persoalan narkoba merupakan satu dari beragam persoalan negeri ini. Jika disadari bahwa beragam problema ini dikarenakan umat ini sudah jauh dari syariah Islam. Ditambah pula gaya hidup liberalisme dan sekular yang dipuja menambah sulit penguraian masalah. Karenanya agar mahasiswa bangkit maka harus ada upaya:

Pertama, membentuk kesadaran pada mahasiswa dengan pendidikan dan mentoring kajian Islam. Islam dikaji sebagai sistem kehidupan. Mahasiswa diajarkan untuk memberikan solusi dari sudut pandang Islam.

Kedua, pembentukan kepribadian yang khas bagi mahasiswa dengan tsaqofah Islam. Tujuannya untuk menjadikan ketaqwaan sebagai kontrol bagi individu mahasiswa agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Selain ketaqwaan, akan dihidupkan aktifitas amar ma’ruf nahi munkar dalam dunia mahasiswa.

Ketiga, mahasiswa juga tampil ke depan untuk memberikan solusi dan meluruskan penguasa. Koreksi itu disertai dengan solusi kritis dan menyelesaikan masalah. Disampaikan dengan ungkapan indah tanpa mencela. Disebarkan dengan kata-kata yang menggugah umat manusia.

Lebih dari itu, mahasiswa juga harus menjadi ujung tombak pergerakan- pergerakan kebangkitan. Mahasiswa harus kritis terhadap berbagai persoalan yang ada dan bisa menawarkan solusinya. Jadi tidak hanya membantu aparat pemerintah dalam menanggulangi masalah narkoba. Namun juga bahu-membahu bersama aparat penegak hukum atau aparat pemerintah untuk mewujudkan sistem yang lebih baik lagi. Kalau bukan Islam, lalu apa lagi? HIDUP MAHASISWA !!!!

Oleh: Rezza R. Pahlevi (Mahasiswa Bahasa Jepang Univ. Negeri Surabaya)

Subscribe to receive free email updates: