Bangkit dan Bersatulah di bawah Panji Rasulullah Saw !


KabarPos.Com - “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Peribahasa yang memiliki arti persatuan akan membuat kita kuat, sebaliknya tercerai berai akan sangat mudah menghancurkan kita. Sesuatu akan berhasil apabila dikerjakan bersama-sama, suatu umat atau bangsa akan menjadi kuat dan maju apabila tidak terpecah belah. Peribahasa yang sangat masyhur baik dikalangan anak-anak maupun orang dewasa. Peribahasa yang sangat mudah dihafal, namun sangat sulit untuk dilaksanakan.

Melihat kondisi Indonesia saat ini, pasca Aksi Bela Islam yang berlangsung 4 November 2016, yang diikuti sekitar 1 juta kaum muslimin, kemudian berlanjut pada Aksi 212 yang diikuti sekitar 7 juta kaum muslim, tak pelak membuat berbagai kalangan yang kepentingannya terganggu menjadi kalang kabut. Bahkan kemudian, muncul berbagai kriminalisasi terhadap para ulama yang merupakan tokoh di balik berbagai aksi yang menguatkan nilai keberislaman masyarakat.

Ternyata ujian tidak berhenti sampai disitu, sebagaimana diberitakan berbagai media masa dan media sosial, pada hari Ahad, tanggal 2 April 2017 yang lalu, Hizbut Tahrir Indonesia ( HTI )  punya “gawe besar”, rangkaian acara yang digelar di lima kota besar di Indonesia ( Medan, Banjarmasin, Kendari, Aceh, dan Surabaya) dengan tajuk : Masirah Panji Rasulullah SAW, dengan bentuk acara konvoi, tabligh akbar, dan dialog dengan tokoh masyarakat, tidak berjalan mulus.

Masirah Panji Rasulullah SAW di Surabaya (Jawa Timur),“terpaksa” di batalkan karena adanya penolakan dari sebagian ormas Islam. Sementara, pelaksanaan Masirah Panji Rasulullah SAW di empat kota besar yang lain yaitu Medan, Banjarmasin, Kendari, dan Aceh berjalan dengan baik.

Tentu saja sangat disayangkan, sebagaimana yang disampaikan oleh Juru bicara HTI Ismail Yusanto, acara tersebut dilaksanakan sebagai sarana memperkenalkan simbol-simbol Islam khususnya panji Rasul bersama dengan ide besar yang diusung yaitu syariah dan khilafah. ”Karena antara al liwa dan ar rayah dengan syariah dan khilafah tidaklah dapat dipisahkan,”.

Ismail Yusanto mengatakan, simbol persatuan dan khilafah dahulu eksis dengan al liwa dan ar rayah. Tujuan kegiatan ini tidak lain agar simbol-simbol dan ide-ide utama itu semakin dikenal secara luas oleh masyarakat, selanjutnya bisa dipahami, diterima dan diamalkan serta diperjuangkan sebagai jalan kebangkitan umat menuju terwujudnya Islam Rahmatan lilalamin.

MULIA DI BAWAH PANJI RASULULLAH SAW
Salah satu persoalan besar yang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini adalah rendahnya pemahaman atau pengetahuan umat akan Islam. Hal ini membuat jarak sangat lebar antara Islam disatu sisi dengan umat Islam disisi lain. Akibatnya, tidak sedikit umat Islam yang tidak mengenal, tidak paham bahkan merasa asing terhadap ajaran agamanya sendiri. Salah satunya terhadap simbol-simbol Islam seperti al-Liwa’ dan ar-Rayah.

Rendahnya pemahaman umat akan ajaran Islam tentu berdampak sangat serius. Bagaimana umat akan mengamalkan ajaran agamanya bila ia sendiri tidak paham ? Dan bagaimana kerahmatan Islam akan bisa dirasakan bila ajarannya tidak diamalkan ? Bagaimana pula umat bisa diharap untuk berjuang bersama bila mereka tak paham apa yang harus diperjuangkan? Alih-alih mau berjuang bersama, yang terjadi sikap umat justru sebaliknya. Terhadap hal yang mestinya dijauhi malah didekati, mestinya ditinggalkan malah dikerjakan. Atau mestinya dibela malah dicerca. Mestinya dicinta, termasuk terhadap panji Rasulullah SAW, malah dihina, dan seterusnya.

Untuk itu sangat penting memperkenalkan kepada masyarakat tentang salah satu simbol Islam yang penting, yaitu Panji Rasulullah SAW, al liwa’ dan ar Rayah. Dalam hal ini kita sangat mengapresiasi, kegiatan besar yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia, dengan menggelar acara besar Masirah Panji Rasulullah SAW. Acara ini diadakan oleh HTI di 36 kota besar di seluruh Indonesia di sepanjang bulan April 2017, bertepatan dengan bulan Rajab 1438 H, sebagai medium untuk lebih mengenalkan simbol-simbol Islam, dalam hal ini al-Liwa’ dan ar-Rayah atau panji Rasulullah SAW, bersama dengan ide besar Syariah dan Khilafah, karena antara al-Liwa’ dan ar-Rayah dengan Syariah dan Khilafah tidaklah dapat dipisahkan. Al Liwa’ dan ar-Rayah di masa lalu menjadi simbol keberadaan atau eksistensi Khilafah dan persatuan umat. Tujuan kegiatan ini tak lain agar simbol-simbol dan ide-ide utama itu semakin dikenal secara luas oleh masyarakat, selanjutnya bisa dipahami, diterima, dan diamalkan serta diperjuangkan sebagai jalan kebangkitan umat menuju terwujudnya Islam rahmatan lilalamin.

Ar-Rayah adalah panji Rasulullah SAW, berwarna hitam, bertuliskan La Ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah dengan warna putih. Sedangkan benderanya (liwa’nya) berwarna putih dengan tulisan warna hitam.

Al-Liwa’ dan Ar-Rayah adalah simbol eksistensi Islam baik disaat damai maupun perang. Sedemikian penting simbol itu, sehingga para sahabat memepertahankannya dengan taruhan nyawa, sebagaimana terjadi dalam perang Mu’tah (sebuah perang besar yang memperhadapkan  antara pasukan Islam dan Romawi. Dalam perang itu, tiga sahabat yang mulia gugur. Rasulullah SAW bersabda ketika berbela sungkawa atas Zaid, Ja’far dan Ibn Rawahah; Zaid mengambil ar-Rayah lalu ia gugur, kemudian Ja’far mengambil (Ar-Rayah) lalu ia gugur, kemudian Ibn Rawahah mengambil (ar-Rayah) lalu ia gugur.

BANGKIT DAN BERSATULAH UMAT ISLAM!
“ Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan kepada manusia. Kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Dan kalian beriman kepada Allah “. (Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 110)

Itu adalah firman Allah. Sebagaimana dinyatakan firman Allah tersebut, umat Islam harus menjadi umat terbaik. Umat Islam harus menjadi terunggul. Umat Islam harus berkemampuan melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.

Masirah Panji Rasulullah SAW memberikan sinyal berita gembira tersebut. Marilah kita semua menjadi saksi bagi berkibarnya al Liwa’ dan ar-Rayah serta bergeloranya keinginan umat menuju terwujudnya kembali kehidupan Islam di bawah naungan khilafah yang akan menerapkan syariah secara kaffah.

Umat Islam bersikap, bergerak dan berkorban tidak lain karena dorongan iman, tauhid serta kecintaan dan pembelaan al-Qur’an. Apa yang terjadi juga menunjukkan bahwa persatuan umat Islam itu adalah sangat mungkin dan riil. Namun, persatuan itu tidak akan bisa diwujudkan dengan hal-hal duniawi, melainkan hanya bisa diwujudkan dengan Islam dan proyek-proyek meninggikan kalimat Allah SWT, membela al-Qur’an dan semisalnya.

Bergeraknya umat Islam secara bersama-sama semata-mata karena dorongan tauhid dan kecintaan pada al-Qur’an juga memberikan sinyal bahwa kebangkitan umat Islam adalah sangat mungkin dan riil. Kebangkitan itu diwujudkan dengan menyempurnakan bentuk pembelaan dan kecintaan pada al-Qur’an, yaitu dengan berjuang untuk mewujudkan penerapan al-Qur’an dan seluruh hukum-hukumnya secara total. Dengan kata lain, wujud kebangkitan umat itu adalah berjuang bersama-sama untuk mewujudkan negara dan kekuasaan yang menerapkan syariah Islam, yakni dalam naungan system Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Dengan itu segala bentuk penistaan al-Qur’an akan bisa dihilangkan. Dengan itu kecintaan dan pembelaan terhadap al-Qur’an akan bisa diwujudkan secara sempurna dan menyeluruh.

Semoga kegiatan ini semakin meneguhkan perjuangan penegakkan Khilafah Islam yang akan menerapkan seluruh Syariah Islam, menyatukan umat, dan melindungi Islam dan umatnya Rasulullah SAW.Allahu Akbar! Wallah a’lam bi ash-shawab.

Penulis : Rahmat Abu Zaki (Aktivis Islam Ideologis)

Subscribe to receive free email updates: