Krisis Identitas Pelajar Muslim


KabarPos.Com - Skip Challenge marak menjadi viral di media sosial menjadi perhatian menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Effendy, sebagaimana dilansir Tribunnews.com kemendikbud menghimbau para guru dan kepala sekolah memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas siswa dilingkungan sekolah. "Permainan Skip Challenge sangat berbahaya bagi siswa, dan ini harus diberikan larangan keras. Guru dan Kepala Sekolah perlu memberikan perhatian terhadap aktivitas siswa di lingkungan sekolah," tegas Mendikbud Muhadjir Effendy dalam rilis yang disampaikan Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sabtu (11/3/2017).

Aneh-aneh saja permainan yang dilakukan anak-anak sekolahan saat ini, mereka mengangap bahwa skip challenge merupakan permainan menantang, bagaimana tidak mereka melakukan dengan cara menekan dada temannya yang bersandar pada tembok hingga anak tersebut nyaris pingsan atau kejang-kejang. Menurut sumber informasi yang saya dapatkan, kondisi demikian karena oksigen ke otak terhenti beberapa saat. Dan hal itu menyebabkan kerusakan sel sel otak dan berujung pada kematian. Pada 2015, lembaga amal AS, GASP menemukan 672 orang meninggal karena skip challenge sepuluh tahun belakangan. Angka itu dua kali lipat lebih besar dibanding 10 tahun sebelumnya. Berbagai survei menemukan 5-10 persen remaja memainkan skip challenge. (https://video.tempo.co/read/2017/03/13/6161/10-fakta-bahaya-permainan-skip-challenge).

Sebagai seorang pendidik, saya sangat prihatin. Dimana mereka dalam masa pubertas, masa coba-coba kerap terjebak arus perilaku yang itu sebenarnya tidak diajarkan dibangku sekolah. Justru mereka pelajari dari media sosial, atau pengaruh dari lingkungan pergaulan. Sedangkan keberadaan mereka disekolah sangat terbatas pengawasannya dari Bapak dan ibu guru. Adapun yang ditempuh oleh pihak sekolah untuk mengawasi aktivitas mereka seperti, pemasangan CCTV di kelas-kelas dan sudut-sudut ruang sekolah ternyata masih kecolongan. Anak-anak mengetahui zona aman yang sekiranya tidak terdeteksi CCTV dijadikan sebagai tempat melakukan aksi permainan-permainan yang membahayakan. Gagasan sekolah amanpun dibentuk untuk mencegah tindakan-tindakan anarkisme, bulliying, dan aksi-aksi permainan yang membahayakan siswa dengan melibatkan jajaran pimpinan sekolah dan komite sekolah ternyata masih sebatas slogan belaka.

Apa sebenarnya yang mereka inginkan dengan melakukan permainan-permainan yang membahayakan ini? Ingin terlihat hebat? membuktikan yang kuat adalah pemenang dan korban adalah pihak yang kalah? nyaris seperti tindakan preman. Psikolog Tika Bisono menyatakan remaja melakukan ini sebagai bagian dari proses mencari identitas diri. Masalahnya sering kali wacana tidak sampai ke anak remaja secara utuh. ”Mereka tidak tahu apa bahayanya, sehat apa tidak, dan lain sebagainya. Akhirnya proses coba-cobanya itu sering kali membahayakan dirinya.” (https://video.tempo.co/read/2017/03/13)

Saya sependapat dengan Tika Bisono, bahwasanya generasi muda sekarang kebingungan arah bagaimana mengekspresikan dirinya, memahami hakekat keberadaannya hidup ini untuk apa dan mau kemana. Tak heran ajang coba-coba menjadi jalan untuk membuktikan keberadaannya. Tanpa mempedulikan apakah itu benar atau salah, bahaya ataukah tidak. Seakan tidak ada bedanya antara generasi terdidik dan tidak. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang diterapkan saat ini belum cukup untuk membentuk kepribadian seorang muslim. Pendidikan yang mendikotomikan antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama menciptakan pribadi yang gampang terombang-ambing trend, mencari kepuasan diri dengan melakukan perilaku-perilaku ekstrem yang membahayakan. Inilah pendidikan sekuler.

Kita membutuhkan sistem pendidikan yang mampu membentuk kepribadian generasi yang menguasai iptek dan skill yang mengkokohkan identitasnya sebagai muslim untuk menjawab tantangan kehidupan. Islam adalah agama paripurna yang tak luput dari segala pengaturan illahiah, termasuk dalam sistem pendidikan.

Dalam islam, aqidah menjadi dasar penentu arah dan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan islam secara garis besar mencakup 3 hal, yakni membentuk kepribadian islam/ tingkah laku yang berdasarkan aqidah islam yang diharapkan menghasilkan orang-orang bertaqwa; menguasai tsaqofah islam (ilmu-ilmu islam), yang diharapkan mampu menghasilkan para mujtahid dan para ulama’; menguasai ilmu untuk mengarungi kehidupan yaitu sains, teknologi, keahlihan dan ketrampilan yang memadai sehingga diharapkan mampu menghasilkan tehnokrat, siantist dan para penemu.

Dengan ini akan terwujud identitas pribadi muslim dengan tsaqofah terbaik dan memiliki sikap jelas menghadapi budaya dari luar islam. Sistem pendidikan Islam telah terbukti mampu mewujudkan generasi berjiwa pemimpin, menjadi pelopor di segala bidang kehidupan. Mulai dari pemerintahan, sains dan teknologi, militer hingga ekonomi. Dunia telah mengakui kehebatan mereka, sebut saja para khulafaur Rasyidin, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Muhammad Al-Fatih, Shalahudin Al-Ayyubi, Umar bin Abdul Aziz, para imam mazhab, dll. Dan keunggulan mereka hanya ditemukan dalam sejarah peradapan islam masa khilafah. Tidakkah kita merindukan masa-masa seperti itu? berharap sejarah terulang kembali, diterapkannya pendidikan islam dalam naungan khilafah.

Penulis : Eni Mu’tamaroh I, S. Si, S. Pd (Pendidik PP. Tebuireng Jombang)

Bagikan Info Ini :