Wahai Anak Negeri: Ingat Pesan Syaikh Hasyim Asy’ari


KabarPos.Com - Tambah ke kini, kondisi Indonesia tak menentu. Sesama anak negeri bergulat demi mendapat tempat. Penguasa di atas pun mengamankan posisi untuk selamatkan diri. Anak-anak negeri ini pun lupa pada pesan-pesan founding father, Syaikh Hasyim Asy’ari. Bagi siapa pun yang mencintai beliau, teladanilah dengan seksama. Bersikaplah arif dan bijaksana. Hentikan setiap arogansi dan menepuk dada. Karena klaim membangun negeri ini tidak bisa sendiri. Apalagi sejak Islam dipinggirkan dalam urusan kehidupan. Umat tidak lagi tahu, mana kawan mana lawan? Mana saudara mana sutradara? Mana kaum munafik mana kaum fanatik? Semua kabur.

Umat di negeri ini, janganlah melupakan pesan Syaikh Hasyim Asy’ari. Jangan pula membelokkan pesan-pesannya menjadi kekaburan. Jangan pula mengambil sebagian pesannya, lalu meninggalkan lainnya. Pesan Syaikh Hasyim Asy’ari yang sekaligus ulama wejangannya patut diperhatikan dan menjadi pusat perhatian. Jagalah ulama’, jangan mengangkangi ulama’. Begitu pula lindungilah sesama umat Islam, janganlah galak dan saling membentak.

Pesan Penggugah
Pesan keteguhan dan akhirnya menjadi landasan umat disampaikan KH Hasyim Asy’ari di hadapan para ulama peserta Muktamar NU ke 3 September 1928 yang dikenal dengan ”Muqoddimah Qonun Asasi” Nahdlatul Ulama (Pembukaan Anggaran Dasar NU). Beliau berkata:

“Hai para ulama dan pemimpin yang takut kepada Allah, kalian sudah menuntut ilmu agama dari orang-orang yang hidup sebelum kalian dan begitu pula generasi sebelumnya dengan bersambung sanadnya sampai pada kalian. Dan kalian harus melihat dari siapa kalian mencari ilmu atau menuntut ilmu agama. Berhubungan dengan caranya menuntut ilmu pengetahuan itu, maka kalian menjadi pemegang kuncinya, bahkan menjadi pintu-pintu gerbangnya ilmu pengetahuan agama. Oleh karena itu janganlah memasuki rumah kecuali melalui pintunya. Siapa saja yang memasuki rumah tidak melalui pintunya maka “pencurilah” namanya.

Meskipun akhirnya Belanda mengakui pendidikan KH Hasyim Asy’ari, beliau tetap berpegang teguh pada prinsip “al-‘itimad ‘ala an-nafsi” (berdikari) tidak menggantungkan diri dari bantuan dana orang lain untuk mengelola Tebuireng, apalagi meminta dana dari kolonial Belanda. Sikap beliau inilah yang seharusnya menjadi teladan penguasa Indonesia dan pengikut setia ulama’ pewaris nabi. Keteguhan beliau inilah yang menjadi corak keikhlasan dalam pengorbanan, serta wujud pengharapan ridho Allah Swt. Sebagaimana pula pendirian yang dicontohkan para Nabi dan Rasul:

“Dan saya tidak menerima upah atas usaha ini. Tak adalah upah saya selain dari Tuhan yang menjaga sekalian alam” (QS asy-Suara: 109).


Kiprah KH Hasyim Asy’ari bersama jam’iyahnya dalam konstelasi politik semakin menampakkan citra Islam mazhab. Pihak Belanda pun mencampuri urusan keagamaan dan mulai tersebarnya tulisan yang menghina Islam. pertengkaran yang sebelumnya mencuat antara NU dengan Muhammadiyah, Persis, dan Al Irsyad yang ‘non mazhab’ mulai berkurang. Dalam Muktamar NU di Banjarmasin seruannya kepada umat Islam dan jamiyyahnya untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah, dan menghindari pertengkaran soal khilafiyah untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang sebenarnya. Beliau pun menyatakan:

“Di antara kalian sampai saat ini masih mengobarkan api fitnah dan perselisihan, kalian masih saling unggul mengungguli dan saling bermusuhan. Hai, para ulama yang taasshub pada sebagian mazhab atau qaul ulama, tinggalkanlah taasshub kalian terhadap masalah-masalah yang furu’ (cabang), karena masalah ini ada dua pendapat bahwa setiap mujtahid itu benar, kedua bahwa yang benar hanyalah satu, tetapi yang salah tetap mendapatkan pahala. Maka tinggalkanlah taasshub kalian. Tinggalkanlah nafsu tercela, pertahankan agama Islam dan berjuanglah menolak orang-orang yang sengaja meremehkan al Quran dan Allah, serta orang-orang yang menyebarkan ilmu bathil dan sesat. Apabila kalian melihat seseorang mengerjakan amalan atas dasar fatwa seseorang yang memang boleh diikuti di antara imam-imam mazhab yang mu’tabar, maka bila kalian tidak menyetujuinya janganlah kalian lantas bersikap keras. Berikanlah petunjuk dengan lemah lembut, dan bila mereka tidak mau mengikuti pendapat kalian, jangan lalu kalian musuhi, sebab sikap seperti itu sama dengan orang yang membangunkota tetapi merobohkan istananya (Choirul Anam, 1985: 94-95).

Karena itu beliau pun menghimbau lebih keras lagi pada Muktamar di Malang tahun 1937. KH Hasyima Asy’ari mengungang kelompok Islam lain untuk menghadiri Muktamar NU dengan undangan sebagai berikut:

“Kemarilah tuan-tuan yang mulia, kemarilah, kunjungilah permusyawaratan kami, marilah kita bermusyawarah tentang apa-apa yang menjadi baiknya agama dan umat, baik urusan agma maupun dunia. Sebab dunia ini tempat mengusahakan akherat dan kebajikan itu tergantung pula atas beresnya peri kehidupan dunia” (Chairul Anam, 1985: 96-97).

Wahai Anak Negeri
Kini tak ada alasan untuk mengabaikan pesan pengguhan Syaikh Hasyim Asy’ari. Bapak bangsa yang bijak nan arif telah memberikan teladan. Ulama’ mulia sekaligus pejuang dalam melawan penjajah. Sudah saatnya umat Islam sadar dan bangkit untuk melawan penjajahan modern dalam wujud hegemoni politik, ekonomi, sosial budaya, dan lainnya. Bersatu padu itu kunci membangun bangsa dan mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Penulis : Soleh Darat (Netter dan Pecinta Sejarah)

Subscribe to receive free email updates: