STATUS NKRI DALAM PANDANGAN FIQIH ISLAM



KabarPos.Com - Pada hakikatnya, umat Islam di seluruh dunia diharamkan mempunyai banyak Khalifah. Mereka hanya diperbolehkan mempunyai satu Khalifah.

al-Imam An-Nawawi, di dalam Syarah Shahih Muslim,12/232, menyatakan bahwa:

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز أَنْ يُعْقَد لِخَلِيفَتَيْنِ فِي عَصْر وَاحِد سَوَاء اِتَّسَعَتْ دَار الْإِسْلَام أَمْ لا

“Para ulama telah bersepakat bahwa Tidak boleh (bagi umat Islam) mempunyai dua orang Khalifah dalam satu waktu, baik ketika wilayah Darul Islam luas ataupun tidak."

al-Imam Ibnu Katsir, di dalam kitabnya, Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, Juz 1 hal. 73:

فأما نصب إمامين في الأرض أو أكثر فلا يجوز لقوله ..." وهذا قول الجمهور

“Maka pengangkatan dua orang Imam atau lebih di dunia adalah tidak diperbolehkan, .. Demikianlah pendapat Jumhur Ulama."

Imam Ibnu Hazm di dalam kitabnya, Maratibul Ijma’, Juz 1 hal 124:

واتفقوا انه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا امامان لا متفقان ولا مفترقان ولا في مكانين ولا في مكان واحد…
“Para ulama sepakat bahwa tidak boleh pada satu waktu di seluruh dunia ada dua Imam (Khalifah) bagi umat Islam, baik mereka sepakat ataupun tidak, baik mereka berada di satu tempat ataupun tidak."

Perkara Khilafah bukan termasuk perkara Khilafiyah yang setiap orang boleh berbeda pendapat terkait hukum menegakkannya.

Perkara Khilafah adalah terkait kesepakatan para ulama (Ijma’) yang hukum kewajibannya tidak boleh ada yang menentangnya. Sebab, Ijma' adalah sumber hukum Islam ketiga setelah Al-Qur'an dan Assunnah, (Imam Assyafi'i, Arrisalah, hal. 39 & Ibnu Taimiyyah, Majmu' Al-Fatawaa, 10/20).

Mengingkari perkara wajib yang kewajibannya sudah ditetapkan oleh Ijma' merupakan satu bentuk kemungkaran, (Imam Assuyuthi, Al-Asybah wan Nazhair, 1/285).

Lalu, bagaimana dengan status negara Indonesia dalam pandangan fiqih siyasah Islam ?..
Status Indonesia secara Fiqih siyasah itu adalah negara yang sah. Hanya saja, keabsahannya tidak mutlak.

"Apabila suatu masa (umat Islam) mengalami kekosongan dari penguasa tunggal, maka penduduk setiap wilayah dan desa harus mengangkat orang-orang yang memiliki kecerdasan pemikiran, seseorang yang dapat mereka ikuti petunjuk dan perintahnya, ", (Imam Al-Haromain, Ghiyatsul umam fii Iltiyatsid dzulam, hal. 386-387).

Keabsahan status NKRI bukanlah keabsahan yang mutlak. Sebagaimana kebolehan seseorang tidak Puasa Ramadhan lantaran ada udzur syar'i.

Keabsahan NKRI hanyalah sebatas keabsahan darurat.

Sebagaimana fatwa para ulama nusantara dahulu, yg dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah, bahwa pemimpin pemerintahan Indonesia itu adalah "Waliyyul Amri Addhoruuri bisyaukah", pemimpin pemerintahan darurat.

Mutlaknya, hanya boleh satu Khalifah bagi umat Islam. Hanya saja, setelah diruntuhkannya Kekhilafahan Islam di Turki, 3 Maret 1924, oleh Inggris dan sekutunya, umat Islam belum mampu menyatukan kembali sistem kepemimpinan mereka.

Jadi, jelaslah NKRI itu bukan harga mati. Tidak ada ulama pejuang terdahulu yang memfatwakan itu. Yang ada justru fatwa NKRI sebagai negara yang statusnya darurat. Tentu saja fatwa itu muncul dikarenakan para ulama terdahulu mengetahui hukum wajibnya dunia Islam bersatu, mempunyai seorang Khalifah.

Seorang muslim tidak boleh selamanya berada dalam kondisi darurat. Ia harus terus berusaha keluar dari kondisi itu.

Begitupun negeri ini, secara syariat, tidak boleh terus-menerus dalam kondisi darurat.

Harus ada ikhtiar dari segenap elemen bangsa yang muslim, selain mempertahankan wilayah-wilayah negara, juga harus berusaha menyatukan kembali negeri-negeri kaum muslimin, dibawah institusi Khilafah Islamiyyah. Sebab itu adalah kewajiban mutlak yang sudah disepakati oleh para ulama.

Jelaskan kepada seluruh warga bangsa yang non muslim, jangan takut dengan ditegakkannya syariat Islam. Sebab, syariat Islam tidak akan mendzolimi mereka. Syariat Islam itu adil. Sebab diturunkan oleh dzat yang maha adil, dialah Allah swt. yang maha menghidupkan dan maha mematikan.

Allaahummarhamnaa bi iqoomatil ukhuwah wal khilaafah

Cirebon, 14 Juni 2017 / 19 Ramadhan 1438 H

Ket. Gambar: buku Api Sejarah

Oleh: Irkham Fahmi (Pengasuh Ma'had Nurul Falah - Cirebon)

sumber: fb ustadz Azizi Fathoni

MOHON DISHARE YA