Begini Gambaran Lantai Tujuh Hotel Alexis


KabarPos.Com - Selasa (30/10) sore, tulisan "Alexis" di Hotel dan Griya Pijat Alexis di Ancol, Jakarta Utara telah ditutup kain hitam. Baik tulisan yang menempel di ujung atas gedung, ataupun tulisan yang bisa dengan mudah dilihat pengguna Jalan R.E Martadinata di depan hotel.

Beberapa petugas keamanan masih berjaga di sekitar hotel tersebut. Petugas parkir vallet pun masih berjaga di depan hotel. Hari itu, memang ada acara di hotel tersebut yaitu konferensi pers mengenai tutupnya tempat yang katanya "Surga Dunia" itu.

Meskipun petugas keamanan masih berjaga, ternyata tidak ada aktivitas pariwisata yang ada di dalam hotel tersebut. Semuanya sudah dibersihkan. Tidak ada satu pun pelanggan di tempat tersebut. Ruang-ruang yang biasa digunakan pelanggan pun kosong. Sudah dipastikan, tempat itu tidak lagi beroperasi.

"Kami menghargai surat yang dikeluarkan Dinas PTSP. Atas dasar itulah kami melakukan penghentian operasional hotel maupun griya pijat Alexis dikarenakan belum dapat diprosesnya perpanjangan TDUP," kata Lina Novita, Staf Legal dan Juru Bicara Alexis dalam konferensi pers, Selasa (30/10).

Lina juga mengatakan, ada 600 pekerja tetap dan 400 pekerja lepas yang bekerja di hotel tersebut. Penutupan tempat kerja mereka berarti hilang juga pekerjaan yang selama ini mereka jalani. Artinya, 1.000 orang akan kehilangan pekerjaannya.

Namun, Muhammad Fajri, salah satu Staf Legal dan Juru Bicara Alexis mengungkapkan, pemberhentian tersebut hanya sementara. Saat ini, pihak Alexis masih belum menyerah memperjuangkan tempat usaha mereka. Keinginan mereka adalah tetap beroperasinya Hotel dan Griya Pijat Alexis di masa depan.

"Masalah pesangon tidak bisa kami informasikan karena memang kami belum ke arah sana. Kami akan berusaha agar usaha kami bisa tetap berjalan," kata Fajri di tempat dan waktu yang sama.

Dalam konferensi pers tersebut, wartawan yang hadir dipersilakan naik ke lantai tujuh. Tempat yang dikabarkan bermasalah sampai mendapatkan julukan "Surga Dunia" itu.

Begitu naik di lantai tujuh, sudah tidak ada aktivitas apapun di sana. Bahkan, kursi yang terdapat di bagian kasir sudah ditumpuk tanda tidak digunakan. Pihak Alexis juga menunjukkan bahwa tidak ada hal yang aneh di tempat tersebut. Sama layaknya tempat spa lainnya.

"Jadi bisa dilihat, ini seperti tempat spa biasa lainnya," kata Lina.

Suasana tempat tersebut remang-remang. Di dalam ruangan pijat, terdapat kamar mandi yang desainnya menyambung dengan tempat tidur, hanya dibatasi tirai. Namun, pihak Alexis menujukkan bahwa tidak mungkin terjadi kegiatan asusila di tempat tersebut.

"Pintunya begini, jadi kelihatan dari luar kalau ada pelanggaran. Di dalam juga ada tulisan ini," kata Lina. Untuk diketahui, terdapat lubang berbentuk persegi di pintu ruang pijat. Di kamarnya pun tertempel tulisan, "Dilarang Berbuat Asusila".

Sementara itu, para petugas keamanan yang bertugas sibuk menjaga hotel tersebut. Mereka pun enggan diwawancarai. Pegawai lainnya yang bertugas menyajikan makanan juga hanya sibuk menjalankan tugas mereka.

Baca Juga : Di Lantai 7 Hotel Alexis, Wartawan Dilarang Memotret, Ada Apa?

Ditutupnya Hotel dan Griya Pijat Alexis masih menimbulkan pertanyaan. Berdasarkan keterangan pihak Alexis, mereka tidak pernah melanggar baik itu penyalahgunaan narkoba atau tindakan asusila. Mereka pun mempertanyakan mengapa izin tidak diberikan oleh dinas PTSP padahal mereka mengikuti prosedur. Di dalam konferensi pers tersebut, Lina juga mengungkapkan pihaknya bersedia apabila memang harus dilakukan pembenahan manajemen asalkan usaha mereka tetap berjalan.

Pihak Alexis masih terus berjuang supaya usahanya tetap berjalan. Sedangkan, sejumlah warga sekitar menyambut baik penutupan tersebut. Meskipun tidak pernah melihat secara langsung apa yang terjadi di dalam, mereka setuju ditutupnya hotel tersebut.

"Takutnya nanti waktu acara Ramadhan mereka bikin acara yang menganggu, jadi setuju sekali kalau ditutup," kata Muhammad Efendi, salah satu warga yang rumahnya berada di sekitar hotel.

Berkaitan dengan penutupan sementara hotel tersebut, Efendi berharap tempat tersebut bisa seterusnya ditutup. "Ya kalau bisa ditutup seterusnya," lanjut dia.

Hal yang sama diungkapkan Slamet, salah satu warga yang juga tinggal di sekitar Hotel Alexis. Ia merasa terganggu ketika banyak perempuan berpakaian terlalu terbuka lalu lalang di sekitar hotel.

"Kalau habis Jumatan, lewat situ ada perempuan pakai celana minim di atas paha. Jadi ya bagus kalau ditutup," kata Slamet.

Tidak ada warga sekitar yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam Hotel Alexis. Namun, apabila memang terjadi maksiat di tempat tersebut, warga mendukung penutupan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tersebut. (Rep)

Bagikan Info Ini :