UU Ormas dan Terpeliharanya Generasi Bangsa


KabarPos.Com - Berbicara seputar generasi adalah bagian dari aktivitas kepedulian akan kelangsungan masa depan kehidupan. Generasi hadir sebagai sosok yang digadang-gadang sebagai penerus estafet suatu bangsa. Oleh karenanya, topik yang berkaitan dengan generasi ini akan senantiasa menjadi bahasan yang tak lekang di makan zaman, selalu up to date dari waktu ke waktu. Sebuah bangsa yang hebat, tentunya memiliki simpanan generasi yang hebat. Hebat dari sisi kuantitas, hebat pula dari sisi kualitas. Demi kepentingan regenerasi hebat ini lah berbagai upaya menyiapkan masa depan generasi terus dilakukan. Lalu, apa kabar generasi Indonesia saat ini?

Wajah Generasi Negeri
Istilah generasi tepatnya disematkan pada penduduk usia muda, yang dikenal dengan sebutan pemuda. Secara kuantitas generasi muda Indonesia saat ini berada pada level aman. Data demografi Indonesia menyebutkan bahwa jumlah pemuda di Indonesia dengan range usia antara 16-30 tahun, berjumlah 61,8 juta orang, atau 24,5 % dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang (BPS, 2014).

Tahun 2020 sampai 2035, Indonesia akan menikmati suatu era yang langka yang disebut dengan Bonus Demografi, dimana jumlah usia produktif Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa ini, yaitu mencapai 64% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa (www.kemdikbud.go.id, 28/10/2016). Bonus demografi ini adalah berkah, mengingat beberapa negara maju justru diprediksi akan mengalami kelangkaan generasi muda, misalnya saja Jepang dan Jerman.

Sedangkan dari sisi kualitas, maka kita patut mengkajinya kembali. Berbagai problema mengepung generasi (meskipun masih ada yang berprestasi). Pada level pelajar sekolah, didapatkan fakta angka putus sekolah masih relative tinggi. Data UNICEF tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) (student.cnnindonesia.com, 18/04/2017).

Sedangkan yang mampu  meneruskan sekolah masih ada pula yang terlibat aksi bullying yang berujung pada pertengkaran kelompok, terlibat tawuran,  ikut ikutan geng motor, menjajal narkoba, menyemarakkan pergaulan bebas, terjerumus pada pornografi, berperilaku asusila, dan sejenisnya. Bahkan tidak sedikit pula yang masuk ke ranah kriminal hingga tingkat kriminalitas yang dilakukan pemuda kian meresahkan publik. Hanya karena sakit hati, pemuda yang rata rata masih sebagai pelajar sudah rela menghabisi nyawa teman sealmamaternya, sebagaimana kasus di SMA Taruna Nusantara (nasional.tempo.co, 01/04/2017).

Sementara itu, di dunia kampus, wajah generasi muda tercoreng seiring dengan derasnya arus hidup modern yang relative hedonis, individualis, dan materialistik. Banyak sekali remaja yang terjerat pergaulan bebas. Atas nama kebebasan bertingkah laku mereka merasa sah sah saja melakukan praktek seks bebas. Seperti yang diberitakan pojoksatu.id, sedikitnya 9 pasangan mahasiswa aliran seks bebas alias kumpul kebo diringkus polisi. Mereka ditangkap di beberapa tempat kost.

Penggerebakan pasangan mesum itu berawal dari laporan warga setempat yang resah melihat ulah para mahasiswa yang kumpul kebo di dalam kamar kost setiap malam (http://pojoksatu.id, 27/04/2016). Sebagai imbas dari tindakan amoral ini, munculah kasus-kasus aborsi. Demi menunjang eksistensi tingkah laku yang hedonis ini, tak jarang yang menhalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.

Ujungnya banyak mahasiswa nyambi menjadi ayam kampus atau bahkan menjadi bandar narkoba. Di PTS kota Surabaya, hanya karena telat kiriman orang tua, 2 mahasiswi nekat menjadi ayam kampus (http://www.tribunnews.com, 26/08/2016). Di Bandar Lampung, 3 mahasiswa Bandar narkoba ditembak aparat karena hendak melawan (www.merdeka.com, 10/05/2017).  Bila gaya hidup seperti ini, bagaimana pemikiran mereka? Akankan terbersit nasib bangsa ini ke depan di sela benak mereka?

UU Ormas dan Nasib Generasi
Serangkain fenomena remaja di atas kiranya mampu mewakili bagaimana wajah generasi yang dimiliki negeri ini. Perbaikan atas mereka adalah tanggung jawab bersama. Orang tua dan masyarakat tak bisa hanya mencukupkan takaran terdidiknya mereka di lembaga formal. Pemerintah pun juga harus memberi ruang kepada elemen masyarakat untuk peduli nasib generasi.

Masyarakat dapat berperan aktif memelihara generasi dengan jalan membina dan menghebatkan jati diri generasi. Jika dulu Bung Karno hanya memelukan 10 pemuda untuk mengguncang dunia, maka sekarang harusnya dapat pula dilakukan. Apalagi dengan bonus demografi, sejatinya jumlah besar itu bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan diperhitungkan di kancah dunia.

Penyiapan generasi hebat membutuhkan kesatuan pandangan akan definisi hebat yang dimaksud. Hebat tidak cukup hanya diukur dari prestasi akademik yang diraih, sebab prestasi akademik tanpa dukungan pemahaman adab masih berpeluang menghasilkan generasi amoral (eg: kasus video porno siswa SMP di Jakarta, pelakunya siswa berprestasi).

Sejauh pengalaman penulis, formula penghebatan generasi yang lengkap dari sisi prestasi maupun adab itu dimiliki oleh pendidikan berbasis Islam, maka hemat penulis generasi hebat adalah generasi berkepribadian Islam. Kepribadian Islam yang dimaksud mencakup pola pikir dan pola sikapnya, yaitu berpemikiran Islam dan bersikap Islami sebagai penerapan atas pemikiran Islam yang dimilikinya.

Dan hal ini sebenarnya sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Namun fakta di lapangan, tujuan mulia di atas masih jauh panggang dari api. Dengan kurikulum sekuler sekarang, saat ada perbedaan antara tujuan dan metode pelaksanaannya, para pelajar kian terbentuk menjadi pribadi yang kering jiwanya, keras mentalnya, bahkan stagnan dari mencari solusi berbagai persoalan yang menimpanya.

Pemuda menghabiskan harinya di sekolah dan di sekitar rumahnya. Layak jika lingkungan mereka juga harus lekat dengan ketaqwaan, agar sejalan dengan tujuan nasional pendidikan di sekolahnya. Di masyarakat perlu ada penanaman Islam secara sistematis dan rutin. Namun pasca diterbitkannya UU Ormas 24 Oktober silam, siapa yang berani ambil bagian? Hanya sekedar kata kafir di nyanyian dan permainan tepuk anak saja dipermasalahkan.

Penyebutan istilah al Quran secara gamblang dibatasi. Pemuda yang menjalankan sunnah pun diawasi, jika mereka memanjangkan jenggot dianggap kecerdasannya berkurang. Jika mahasiswa bersuara atas permasalahan bangsa lalu menyuguhkan solusi berdasarkan kacamata Islam, langsung dilabeli radikal. Bahkan ada yang ditangkap karena menyuarakan kebenaran dan mengoreksi kebijakan yang tidak benar.

Iklim pasca UU Ormas ini menjadi dingin bagi penyebaran ajaran kebaikan. Keberadaan pasal karet berimplikasi pada munculnya kebijakan untuk melakukan banyak banyak koreksi atas materi dakwah dan penyampaian Islam di tengah masyarakat. Akhirnya akan banyak ajaran Islam yang direduksi supaya tidak bertentangan dengan “melakukan tindakan permusuhan atas nama SARA”, supaya tidak masuk kategori “paham lain yang bertujuan mengganti ideology bangsa”. Iklim ini berasosiasi negatif terhadap penyuasanaan kehidupan Islam di tengah masyarakat. Padahal dalam Islam, masyarakat adalah salah satu elemen penting penyangga tegaknya sistem selain rasa ketaqwaan yang tertanam dan terbina pada setiap individu.

Adanya sikap saling mengontrol pelaksanaan Islam dan mengawasi serta mengoreksi tingkah laku penguasa pada masyarakat dimungkinkan berperan besar bagi pembentukan sikap generasi mudanya. Karena itulah proses pendidikan di tengah masyarakat menempati posisi penting. Pembatasan penyampaian Islam ini menjadikan pemikiran yang diterima tidak menyeluruh dari akar hingga buahnya. Ketika berbicara aklaq, ibadah maka tidak mengapa.

Ketika berbicara urusan ekonomi dan sosial islami maka akan di awasi. Dan ketika berbicara kepemimpinan akan dibatasi. Hingga pada akhirnya keberadaan regulasi ini mengancam identitas keislaman generasi bangsa, artinya mengancam penghebatan generasi tadi.

Padahal jika mencontoh Generasi sehebat al Fatih yang mampu menaklukkan Konstatinopel saat berusia 21 tahun, tidak cukup disiapkan dengan membatasai penanaman pemikiran Islam atasnya, misalnya menanamkan urusan ibadah atau akhlak saja. Ia nya ditempa pula dengan ilmu jihad dan kepemimpinan.

Ia nya juga ditempa ilmu menghadapi dan memperlakukan kaum kafir, dan tentu dibekali pula dengan urusan mengelola wilayah yang ditakhlukkannya, ilmu mengatur Negara. Kesimpulannya generasi hebat yang terpelihara harus mendapat ajaran Islam secara sempurna, tanpa reduksi, tanpa dihantui ketakutan oleh regulasi. Tanpa kehebatan, tanpa kepribadian khas, nasib generasi akan dipertaruhkan di masa depan. Menang atau terlindas peradaban.  [KabarPos]

Penulis :
*Arin RM
Contributor FP and IG

of @infomuslimahjember


Bagikan Info Ini :