Maulid Nabi Saw Momentum Menghujamkan Syahadat Tauhid Dan Spirit Persatuan Umat Islam


KabarPos.Com - Memasuki bulan Rabi'ul Awwal 1438 Hijriah ini dapat kita saksikan bersama betapa seluruh umat muslim datang berbondong-bondong memenuhi ruang masjid dan majlis-majlis penuh keberkahan tak lain dengan niatan tulus menyambut hari kelahiran Baginda Rasulillah ﷺ yang dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal Tahun Gajah.

Kesemarakan kaum muslim tidak hanya di desa desa saja bahkan seluruh penjuru dunia pun memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan berbagai bentuk acara yang tiap daerah memiliki perbedaan. Begitu juga penyambutan yang dilakukan di kota saya yakni kota Banyuwangi memiliki kekhasan tersendiri dalam acara penyambutannnya seperti yang telah mengakar yakni Endog-Endogan. Ciri khas setiap yang datang memperingati acara maulid tersebut dengan membawa telur rebus yang ditaruh di dalam sebuah hiasan yang dikenal bunga telur yang ditancapkan di  dahan pisang yang telah ditebang kemudian dihiasi.  Biasanya anak-anak kecil pada berebut bunga telur saat acara Maulid telah selesai.

Lain daerah maka lain pula tradisinya. Seperti yang pernah saya lihat di daerah Kalimantan Selatan kota Barabai pada acara maulid Nabi SAW hampir seluruh kepala keluarga merayakannya dengan mengundang dan menjamu kerabat dan seluruh warga  disekitar untuk datang kerumahnya. Dalam acara inti Maulid Nabi saw dengan disuguhi manakib dan Pukulan rebana diiringi syair "Barzanji" oleh sekelompok group yang telah ahli dalam bidangnya.

Sekaligus penyuguhan makan bersama dan uniknya seluruhnya laki-laki memakai koko putih begitu juga para wanita yang diundang memakai gamis Putih krudung putih.  Acara maulid tersebut dimulai dari tanggal 1-30 Rabi'ul Awwal sehingga kalau kita melihat keadaan jalan raya hampir setiap hari dibanjiri dengan pakaian putih selama 1 bulan penuh. Contoh di atas adalah dua diantara   perayaan maulid nabi SAW yang pernah penulis temui.

Kembali pada riwayat tentang kelahiran Nabi SAW diriwayatkan Sayyidina Ibnu Abbas, Beliau berkata :

ولد رسول الله ﷺ عام الفيل (رواه البزار والطبراني فى الكبير ورجاله موثقون)

Baginda Rasulillah ﷺ dilahirkan pada tahun Gajah. (HR. Bazzar dan Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir dengan para perawi yang bisa dipercaya). [al-Haitsamy, Majma'uz Zawaid, juz 1 hal. 463 no. 952]

Sungguh bukanlah suatu kebetulan Baginda ﷺ dilahirkan pada hari Senin, sudah barang tentu karena hari Senin adalah hari yang sangat istimewa agungnya sehingga dipilih oleh Allah Subhanahu Wa ta'ala sebagai hari kelahiran makhluk yang paling dikasihi-Nya, Baginda Rasulillah ﷺ.

Diriwayatkan dari Hanasy as-Shan'ani bahwa Sayyidina  Ibnu Abbas berkata :

ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين ، واستنبئ يوم الاثنين ، وتوفي يوم الإثنين ، وخرج مهاجرا من مكة إلى المدينة يوم الاثنين ، وقدم المدينة يوم الاثنين ، ورفع الحجر الأسود يوم الاثنين

Rasul ﷺ dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi Nabi pada hari Senin, beliau wafat pada hari Senin, berhijrah dari Mekkah ke Madinah pada hari Senin, tiba di Madinah pada hari Senin dan mengangkat Hajar Aswad pada hari Senin. [HR. Ahmad no. 2506]

Meskipun sebagian umat Islam biasa merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. dengan segala ekspresi kegembiraan dan rasa syukur yang berbeda beda di masing masing daerah Tentu itu dilakukan karena dorongan rasa cinta umat ini.

Ustadz Arief B. Iskandar  mengutip sebuah riwayat dalam Kitab Shahih al-Bukhari. Disebutkan kira-kira demikian: Suatu hari, Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya, Abu Lahab seraya menyampaikan kabar tentang kelahiran bayi mungil bernama Muhammad, keponakan barunya. Mendengar itu Abu Lahab pun bersukacita. Ia kegirangan seraya meneriakkan kata-kata pujian sepanjang jalan.

Sebagai bentuk luapan kegembiraan, ia segera mengundang para tetangga dan kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini: bayi laki-laki yang mungil, lucu dan sempurna.

Sebagai penanda sukacitanya, ia pun berkata kepada budaknya, Tsuwaibah, di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya itu, “Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku (Muhammad), anak dari saudara laki-lakiku, Abdullah, maka kamu menjadi manusia merdeka mulai hari ini!”

Sayang, siapapun tahu, kelak Abu Lahab—yang notabene paman Nabi Muhammad saw. ini—justru tampil menjadi salah satu musuh utama beliau. Ia mengingkari risalah kenabian beliau sekaligus menentang al-Quran yang beliau bawa. Karena itu sosoknya lalu dikecam dalam satu surat tersendiri dalam al-Quran, yakni Surat Al-Masad.

Namun demikian, karena ekspresi kegembiraannya menyambut kelahiran Muhammad, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksaan, yakni pada setiap hari Senin. Imam al-Hafizh as-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy (I/196-197), “Saya melihat Imamul Qurra`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzi, berkata dalam kitab beliau yang berjudul, ‘Urf at-Ta’rif bi al-Mawlid asy-Syarif, dengan teks sebagai berikut: Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meninggalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepada dia, “Bagaimana keadaanmu?” Dia menjawab, “(Aku) di dalam neraka. Hanya saja, diringankan atas diriku siksaan setiap malam Senin. Hal ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika dia menyampaikan kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Muhammad dan karena dia telah menyusuinya.”

As-Suyuthi berkata, “Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang telah dicela oleh al-Qu'ran, diringankan siksaannya dengan sebab kegembiraannya karena kelahiran Nabi Muhammad saw., maka bagaimana lagi keadaan seorang Muslim dari kalangan umat beliau yang bertauhid, yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau?! Saya bersumpah, tidak ada balasan dari Allah Yang Maha Pemurah kecuali Dia akan memasukkannya ke dalam surga.”

Riwayat tentang Abu Lahab ini pun dicantumkan di dalam Kitab Al-Barjanji yang terkenal, juga dinukil oleh Syaikh Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam risalahnya, Hawla al-Ihtifal bi al-Mawlid (hlm. 8).

Riwayat ini kemudian dijadikan 'dalil' oleh sebagian ulama tentang keabsahan merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

Mengutip tweet Ustadz Felix Shiauw bahwa dalam sirah Nabi kita tidak menemukan riwayat perayaan secara khusus oleh Nabi di hari lahirnya ataupun melakukan ritual tertentu. Begitupun di zaman sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in serta ulama salaf, tidak ada yang mengkhususkan hari lahir Nabi saw.

Peringatan khusus atas Maulid ini baru ada di generasi setelahnya. Ada sumber bahwa Salahuddin Al-Ayyubi yang pertama mengawalinya dalam usahanya membebaskan Al-Quds (Yerusalem) dari penjajah tentara salib  Salahuddin memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Tujuan peringatan Maulid ini mempertinggi semangat jihad kaum Muslim dengan membacakan kisah hidup Nabi Muhammad saw. Pada 1184 M Salahuddin mengumpulkan ulama untuk mengisahkan kisah Rasulullah dalam sebuah syair  untuk menyemangati Muslim. Adalah Syaikh Ja'far Al-Barzanji yang akhirnya terpilih untuk mengisahkannya, jadilah syair "Barzanji" seperti kita kenal sekarang.

"Barzanji" ini ditulis untuk meningkatkan kecintaan ummat pada Nabi yang diharapkan akan mencontoh perjuangan beliau saw.

Alhamdulillah semangat dan persatuan kaum Muslim diawali peringatan ini, lalu Al-Quds dapat dibebaskan pada 1187 M oleh Muslim

Sedangkan Iman seorang muslim yang sesungguhnya adalah termaktub dalam QS. Thahaa [20]:14 yang artinya :  "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku."

Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang berucap Lâ ilâha illallah dengannya ia mengharap wajah Allah."(HR. Muslim).

Sedangkan makna Syahadatain adalah Laa ma'buda illallah yaitu Tidak ada Dzat yang layak disembah kecuali Allah SWT. Tiada sekutu bagi-Nya. Penyembahan itu berupa ketaatan kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Adapun Muhammad Rasulullah saw sebagai pembawa risalah untuk dipahami dan dilaksanakan dalam kehidupan berupa petunjuk menuju ketaatan dan menjauhi larangan-Nya.

Sebagai muslim harus memiliki 3 hal antara lain: Mai'yatullah wa Muroqobatullah, Mahabbah wa Ridho illallah, keyakinan dan percaya kepada Janji Allah.

Pertama: Ma'iyatullah Wa Muroqobatullah.
Hal ini telah Allah terangkan dalam beberapa Firman Allah SWT yang berbunyi: " ...Dia bersamamu dimanapun kamu berada, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (TQS. Al-Hadid [57] :4).

Mai'yatullah Wa Muroqobatullah juga terdapat dalam kalam Allah SWT : " Dia bersama mereka dimana saja mereka berada. Kemudian Dia kabarkan kepada mereka apa-apa yang mereka kerjakan pada hari kiamat. Sungguh Allah mengetahui tiap-tiap sesuatu".(TQS. AL-Mujadilah [58]: 7). Bisa di cek pula dalam QS. Qaaf:18 , Al-Infithar: 10-12.

Kedua, Mahabbah Wa Ridho Ilallah juga telah sangat gamblang Allah menerangkan dalam QS. Ali Imran :31 yang artinya : Katakanlah: Jika kamu (benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur'an bahwa Ayat yang mulia ini (QS. Ali Imron:31) adalah pemutus bagi siapa saja yang mengaku mencintai Allah SWT, namun ia tidak berjalan di atas Jalan Nabi Muhammad saw, maka ia telah berdusta dalam pengakuannya itu, hingga ia mengikuti Syari'at Nabi Muhammad saw dan agama Nabi saw di seluruh perkataan dan perbuatannya". (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an al-'Adziim).

Dan yang ketiga, hendaklah seorang muslim wajib mempercayai janji Allah 'Azza wa jalla
.Baik yang termaktub dalam Al-Qur'an maupun yang disampaikan-Nya melalui lisan Nabi saw dalam hadits-hadits nya maka perkara ini disebut sebagai Tsiqoh bi Wa'dillah.

Dalam perjuangan yang memang sekilas tampak sulit itu akan menemukan  hasilnya dengan NasrullahNya. Tsiqah bi Wa'dillah ini sebagaimana yang telah Allah SWT janjikan dalam QS. AN-Nuur ayat 55 yang artinya:

" Allah telah berjanji kepada orang orang yang beriman dan beramal shalih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang orang sebelum mereka berkuasa; Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka; dan Dia benar benar akan menukar keadaan mereka_sesudah mereka berada dalam Ketakutan_menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah Aku tanpa mempersekutukan Aku dengan apapun. Siapa saja yang kafir sesudah janji itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.

Sebagaimana kita ketahui, sejarah manusia tidak pernah kosong dari pertarungan antara kebenaran dan kebhatilan. Para penyeru kebaikan senantiasa mendapat tantangan dan halangan dari para penyeru kebhatilan, juga dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan bersikap pragmatis yang hidup sekedar mencari kemanfaatan duniawi dan demi memenuhi hasrat hawa nafsu semata. Demikian pula yang dialami oleh seluruh Nabi dan Rasulullah saw semasa hidupnya.

Tak ada perjuangan tanpa ancaman dan tantangan, bahkan hambatan dan gangguan di masa perjuangan Rasulullah saw dalam mengemban risalah Islam mulia ini.

Rasulullah saw yang paling baik akhlaknya, paling baik tutur kata serta budi bahasanya; yang senantiasa dibimbing wahyu dalam seluruh sikap, kata dan perbuatannya; yang menjadi teladan seluruh umat manusia tidak luput dari hal tersebut. Beliau misalnya, pernah mendatangi orang orang di rumah-rumah dan pasar-pasar mereka demi menyampaikan kalimat, "katakanlah: Lâ ilâha-illallâh niscaya kalian akan sukses!
Setiap kali Rasulullah saw keluar menyampaikan dakwahnya, Abu Lahab senantiasa mengikuti beliau untuk mendustakan beliau sekaligus memperingatkan orang-orang Quraisy agar tidak mengikuti ajakan beliau. Rasulullah saw pun digelari dengan sejumlah julukan miring antara lain pendusta, penyihir, penyair, gila, pemecah belah dan lain-lain. Namun demikian, Rasulullah saw adalah manusia unggul yang kuat dan teguh serta lurus dalam memperjuangkan risalah yang beliau bawa sebagai amanat dari Allah SWT.

Orang-orang Mukmin generasi pertama dan terbaik, yang senantiasa mengikuti jejak Langkah Rasulullah SAW dengan ikhlas dan penuh kesungguhan, juga mengalami hal yang sama.

Seperti kisah keteguhan Iman "Zubairoh ra, yakni seorang wanita yang lemah yang mendapat siksaan dari orang Quraisy karena ia masuk Islam. Beliau disiksa agar mau meninggalkan Islam akan tetapi ia menolaknya, disebabkan penolakannya terhadap permintaan mereka, maka beliau pun terus disiksa hingga kedua matanya buta. Maka orang-orang Quraisy pun berkata: "Ia buta karena kutukan Latta dan 'Uzza. Mendengar pernyataan itu langsung ia menyangkal. " Sekali-kali tidak." Maka Allah SWT pun mengembalikan penglihatannya.
Alangkah kokohnya keimanan sang wanita ini, walaupun lemah dan tak berdaya, akan tetapi keimanan yang menancap di lubuk hatinya yang dalam ia tegar dalam menghadapi semua siksaan asalkan keimanannya tetap terpatri dalam sanubarinya.

Melalui kisah, Al-Qur'an dan As-Sunnah memberi nasehat dan bimbingan kepada manusia hikmah di balik peristiwa-peristiwa tertentu. Secara global hal ini tercantum di dalam firman Allah SWR sebagai berikut: "Sesungguhnya pada kisah-kisah itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (TQS. Yusuf [12]: 111).

Begitupun Rasulullah SAW menjadikan kisah sebagai media untuk mendidik jiwa para sahabatnya.
Sewaktu ancaman dan siksaan kaum Quraisy terhadap kaum muslim makin menjadi-jadi, Rasulullah saw mengarahkan supaya sebagian sahabat hijrah ke Habasyah. Mush'ab pun turut bersama rombongan. tersebut. Mush'ab yang dulu sebelum mengenal Rasulullah saw adalah sosok pemuda yg hidup mewah di tengah-tengah ayah bundanya yang kaya raya  kemudian dia meninggalkan itu semua karena   Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan dalam kisah akhir perjuangannya Mush'ab sebagai syuhada' Uhud  dalam keadaan menyambut dan memeluk bendera Islam itu dengan kedua lengannya yang kudung dan ditikam dengan tombak oleh Ibnu Qamiah. Ketika hendak di kafankan, tidak ada kain yang mencukupi untuk menutupi jenazahnya. Keadaan itu menyebabkan Rasulullah saw tidak dapat menahan kesedihannya sehingga bercucuran air matanya.

Keadaan beliau digambarkan  dengan kata-kata yang masyhur:" Apabila ditarik kainnya ke atas, bagian kakinya terbuka, dan apabila ditarik kainnya ke bawah, kepalanya terbuka. Akhirnya, kain itu digunakan untuk menutup bagian kepalanya dan kakinya di tutup dengan daun-daun kayu.

Demikian kisah kekuatan dan ketegaran pribadi seorang hamba Allah dalam mempertahankan kebenaran dan kesucian Islam.

Namun demikian, Rasulullah saw dan para Sahabat beliau adalah orang orang yang pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran. Mereka sabar dan sangat memahami hakikat ancaman, hambatan, tantangan yang mereka hadapi. Semua itu mereka pahami sebagai cobaan, fitnah dan ujian atas keimanan. Allah SWT mengajarkan kepada mereka hal itu melalui firman-Nya: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan "Kami telah beriman," sementara mereka tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sehingga Allah benar-benar mengetahui mana orang-orang yang benar dan mana orang-orang yang dusta.  (TQS. Al-Ankabut [29]: 2-3).

Dalam ayat lain Allah SWT juga menanamkan keberanian yang didasari keyakinan kepada kaum mukmin dengan jaminan bahwa Allah SWT adalah penolong dan pelindung mereka dari berbagai fitnahan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir kepada mereka.
Allah SWT berfirman yang artinya: "Kami Pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian minta (TQS. Fushshilat [41]:31).

Wahai penerus perjuangan Rasulullah saw oleh karena itu keberanian dan keyakinan sudah sepantasnya berada di dalam diri seorang mukmin, pelanjut risalah Islam yang Rahmatan Lil'alaamiin. Tentu kita menolak cara cara kekerasan dalam berjuang menegakkan Islam dimuka bumi. Mengubah pemikiran yang jahiliyah dan keyakinan manusia agar mau menerapkan Islam secara total dengan cara berdiskusi, adu argumentasi, bahkan mungkin berdebat untuk menyibak kepalsuan dari sebuah kebhatilan dan sekaligus menampilkan kebenaran islam secara nyata. Itulah bukti cinta hakiki seorang mukmin kepada Allah SWT dan Rasululullah saw.

Al hasil, sekali lagi penting kita sadari bahwa kaum mukmin yang sudah lurus dalam menempuh jalan yang di contohkan Rasulullah saw dalam menegakkan Islam pasti akan mengalami fitnahan yg bertubi-tubi, adu domba antara kaum muslimin. Di zaman now di berbagai belahan dunia khususnya terjadi pembantaian, kezhaliman yang di alami kaum muslim baik itu di Palestina, Rohingya bahkan untuk kaum muslim Indonesia yang sering mengalami kezhaliman, kriminalisasi Ulama, Islamophobia senantiasa digencarkan oleh kaum munafik dan penyeru kebathilan.

Sungguh perjuangan untuk menghujamkan syahadat Tauhid tidak sekedar perayaan Maulid Nabi saw semata namun harus seiring sejalan dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, menerapkan kehidupan Islam dengan menghabiskan umur kita untuk Islam, meninggalkan kehebatan dunia, berhijrah lahir dan bathin untuk mengambil kehebatan ukhrawi yang sejati sebagai bekal akhirat. Mari kita ikuti jejak perjuangan Rasulullah saw dan para sahabat demi menegakkan agama Allah tentunya tidak berjalan sendiri-sendiri namun perlu berjama'ah memperkokoh persatuan umat berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Oleh karena itu moment Maulid Nabi ini mari kita
jadikan pengingat dan momentum mempersatukan umat Islam dalam menghujamkan Syahadat Tauhid dan mengambil secara keseluruhan hukum-hukum Allah SWT secara totalitas dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a'lam bishawab.
Banyuwangi,

Banyuwangi, 11 Rabi'ul Awwal 1438H ; pukul 23: 26 WIB oleh Dzikrina Alfatihah (Admin PAUD Tahfidz Alfatihah- Sempu).

Bagikan Info Ini :