Membentengi Remaja dari HIV/AIDS


KabarPos.Com - Jumlah penyebaran HIV/AIDS di kota Jember mengalami peningkatan. Jika ditahun 2014 penderita tercatat di angka 1.640, maka di tahun 2017 ini jumlah penderitanya sudah meningkat pada level 3.186 orang dan menyebar di setiap kecamatan. Hingga Nopember 2017 kecamatan Puger diketahui sebagai tempat jumlah penderita terbanyak. Angka ini memposisikan Jember masuk pada posisi penderita HIV/AIDS tertinggi di Jawa Timur setelah kota Surabaya dan Malang (www.jawapos.com/radarjember, 03/12/2017).

Ironisnya, dari sumber yang sama dinyatakan bahwa potensi penyakit menular terus datang dari pasangan homoseksual. Penularan dari perilaku seksual yang menyimpang tersebut cukup tinggi dibanding yang lain. Bahkan, para penderita dari kalangan homoseksual  masih  muda. Yakni umur 17 tahun sampai 20 tahun. Artinya penyebaran terjadi di kalangan usia remaja. Sungguh disayangkan, di tengah santernya upaya penyiapan Indonesia menuju Bonus Demografi di tahun 2025 nanti, ternyata masih ada generasi muda yang terjebak pada pusaran perilaku yang tidak baik hingga memberikan efek buruk terhadap dirinya sendiri.

Perilaku homoseksual (biasanya dekat dengan aktivitas gonta ganti pasangan) sebenarnya adalah buah dari adanya kebebasan berperilaku. Di alam yang serba demokratis seperti saat ini, kebebasan berperilaku harus diakomodir dengan dalih agar tidak mematikan hak asasi. Akan tetapi, tatkala kebebasan berperilaku tersebut tidak terkendali, dapat berakibat fatal. Mengapa? Atas nama kebebasan bertingkah laku, aktivitas saling menasehati dianggap sebagai bagian dari ikut campur privasi orang lain, sehingga konsep benar  dan salah menjadi kabur, halal dan haram tidak lagi dapat dibedakan dengan jelas.

Dengan adanya kebebasan berperilaku ini pula, kawula muda di Jember yang mayoritas muslim ini perlahan tapi pasti digiring untuk bebas mengekspresikan dirinya, termasuk mengenal dunia pacaran sebagai pintu awal kemaksiyatan. Mau tidak mau dalam sistem yang seperti ini kebaikan pun sering kalah dengan kemaksiyatan, hingga akhirnya tidak jarang dampak dari kemaksiyatan tersebut bermunculan di sekitar kita, sebagaimana kasus pemberitaan mengenai HIV AIDS di atas.

Rawan HIV/AIDS Dibalik Pergaulan Bebas Remaja
Sampai saat ini derasnya arus liberalisai kehidupan telah memunculkan  anggapan bahwa kepatuhan dan ketaatan dalam menjalankan keyakinan agama merupakan sebuah hal yang “aneh”. Lebih ekstrim lagi apabila sikap taat dan patuh tersebut ditunjukkan oleh penganut Islam, maka sebutan yang melekat bisa berganti menjadi “radikal”, fanatik berlebihan. Akibat stigma ini, seorang yang berusaha konsekuen menjalankan apa yang diyakininya akan dianggap aneh bahkan bisa terasing dari khalayak yang dinilai “maju”.

Contoh yang mudah ditemukan adalah adanya anggapan kuper,ndeso bagi remaja yang tidak memiliki pacar atau belum tahu homoseksual. Mengapa bisa? Karena dewasa ini keduanya adalah trend, dianggap sebagai bentuk kemajuan dari pergaulan, dan bahkan membawa kebanggaan pagi sebagian pelakunya. Padahal, keduanya merupakan awal pembuka dari aktivitas pergaulan bebas. Tidak jarang aktivitas ini membawa dampak negative turunan berupa maraknya video mesum, kehamilan di luar nikah yang tidak diinginkan, kasus aborsi, pembunuhan bayi yang telah dilahirkan, hingga kasus penyebaran penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS. Dari sinilah pergaulan bebas ini kemudian disikapi sebagai sebuah permasalahan yang pelik, khususnya bagi remaja. Sebab dari data yang terungkap, kenaikan penderita HIV/AIDS ekuivalen dengan peningkatan pergaulan bebas dengan segala turunannya.

Jika budaya pacaran, homoseksual dan sejenisnya ini dipasarkan di negeri-negeri Muslim, maka yang menjalankan dan tejerumus pada perilaku seks bebas nantinya tentu juga anak-anak kaum muslim. Mereka akan dipropaganda secara kontinyu dengan kebiasaan yang sama sekali tidak pernah diajarkan dalam keyakinannya. Maka tidaklah berlebihan jika semua ini dikatakan sebagai virus seks bebas yang berujung pada pendangkalan akidah generasi muda Islam. Karena pada akhirnya aktivitas beraroma seks bebas ini akan mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu. Inilah yang sejatinya dikhawatirkan dari liberalisasi tingkah laku di kalangan remaja. Semata-mata karena menjaga generasi, bukan karena Islam yang antipasti dengan budaya dari luar. Bahaya inilah yang semestinya diwaspadai oleh siapapun, terlebih oleh keluarga Muslim.

Bentengi Remaja Sejak Dini
Membentengi remaja dari HIV/AIDS itu perlu. Mereka setidaknya harus tahu upaya apa yang pernah disosialisakan untuk mencegah penyakit tersebut. Di Indonesia Penanggulangan HIV/AIDS secara umum mengadopsi strategi yang digunakan oleh UNAIDS dan WHO. Diantara program-program yang masuk dalam area pencegahan pada Strategi Nasional Penanggulangan HIV-AIDS adalah: Kondomisasi, Subsitusi Metadon dan Pembagian Jarum Suntik Steril. Upaya penanggulangan HIV/AIDS versi UNAIDS ini telah menjadi kebijakan nasional yang berada di bawah koordinasi KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional).

Namun upaya ini tampaknya masih kurang menyentuh pada akar persoalan. Kondomisasi adalah pencegahan antarpasangan –ada juga bukan pasangan resmi-, belum mencegah agar zina nya tidak terjadi. Substitusi dan pembagian jarum suntik masih focus pada pecandu narkobanya, belum bagaimana agar tidak terjebak pada narkobanya. Dari sinilah diperlukan solusi lain yang mampu membentengi remaja. Solusi yang mencegah kemunculan perilaku beresiko (pergaulan bebas) sejak dini, solusi yang memberantas perilaku beresiko penyebab penularan, solusi yang mampu mencegah penularan pada orang sehat. Karena penyakit ini hingga sekarang belum ada obat untuk menyembuhkannya, maka area pencegahan adalah salah satu prioritas yang harus dilakukan.

Remaja menghabiskan masa tumbuh kembangnya dari bayi hingga bisa dikatakan ABG dalam buaian keluarganya. Di dalam institusi keluargalah remaja akan mendapatkan pendidikan yang utama dan pertama dari kedua orang tuanya. Maka, sejatinya adalah hal yang wajar jika keluarga bisa memainkan peran utama untuk membentengi remajanya dari kerusakan. Di dalam keluraga dapat dikokohkan aqidah. Baik itu ditanamkan ketauhidan, pengajaran ritual, sekaligus pengetahuan tentang mana-mana saja budaya asing yang sejalan dengan keyakinannya dan mana-mana yang tidak. Pengokohan aqidah seperti ini akan menjadikan remaja punya prinsip, tidak serta merta menolak apapun yang dari asing, tetapi juga tidak sembarangan mengambil apapun dari  budaya asing ketika hal tersebut dibalut dengan istilah “tren”.

Di samping itu,  serangan budaya hakikatnya adalah serangan terhadap akidah, karena budaya pasti lahir dari akidah tertentu.  Akidah Islam yang kuat akan menjadi benteng dari semua bentuk serangan budaya kufur.  Virus seks bebas dengan sendirinya akan mati oleh sikap berpegang teguhnya Muslim terhadap akidah Islam. Terlebih, Islam melarang umatnya untuk merayakan tradisi agama tertentu dan budaya kufur (lihat QS al-Kafirun: 6, QS al-Furqan: 72).  Dan Allah SWT juga memerintahkan kaum Muslim untuk hanya menetapi agama Islam dan tidak mencampuradukkan dengan agama lain (lihat QS Ali Imran: 85).

Ketika aqidah kuat, maka benteng akan jauh lebih hebat jika disertai dengan kekukuhan memegang syariat Islam. keterikatan terhadap syariat akan menjadikan Muslim senantiasa menyelaraskan tindakannya dengan keridlaan Allah, kendati dalam urusan rasa cinta sekalipun. Hal ini sangat wajar, mengingat apapun yang dikerjakan di dunia ini nantinya akan dimintai pertanggungjawaban (lihat QS al-Mudatstsir: 38). Islam mengajarkan agar  pemenuhan semua kebutuhan dan naluri yang muncul mengikuti aturan Allah SWT.

Oleh karenanya, seorang Muslim ketika hendak berbuat apapun perlu mengetahui status hukum atas perbuatanya tersebut.  Hal ini berfungsi agar setiap Muslim tidak terjerumus pada perilaku yang diharamkan Allah SWT (Lihat QS al-Isra’: 36). Baik- buruk suatu perbuatan haruslah ditimbang dengan timbangan syariah, bukan karena suka atau tak suka mengikuti hawa nafsunya.  Sebab, hanya Allah sebagai Pembuat Syariah yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi manusia (Lihat QS al-Baqarah: 216).

Kesadaran taqwa berlandaskan bangunan aqkidah ditambah dengan adanya peran orang tua (keluarga) untuk memberikan bimbingan agama, perhatian dan kasih sayang yang cukup, teladan yang menggugah, dan kontrol yang efektif, dorongan kesadaran remaja akan semakin tinggi. Dorongan ini akan lebih efektif lagi seiring adanyanya kemauan untuk beramar makruf nahi munkar terhadap segala bentuk kemaksiyatan yang ada.  Mereka bukan saja membentengi diri bahkan juga pro aktif melakukan perubahan terhadap lingkungan sekitarnya. Meskipun demikian, pada akhirnya peran Negara lah yang lebih signifikan dalam membentuk sistem dan tata aturan dalam masyarakat untuk mengendalikan rangsangan ini.

Tanpa kesatuan aturan dari negara, masyarakat kita terpecah menjadi kelompok yang menolak segala bentuk gaul bebas dan kelompok penikmat gaul bebas dari sisi pelakunya sendiri ataupun di industry yang memunculkan rangsangan gaul bebas itu sendiri. Seks bebas dibenci, namun video porno tetap diproduksi dan masih ada yang mencari. Di sinilah pentingnya negara bertanggung jawab membuat formula yang mempu menangkal semua bentuk serangan yang bisa memunculkan rangsangan seksual, baik itu dari sisi pemblokiran opini melalui iklan media ataupun penghapusan sarana sex bebasnya seperti lingkungan prostitusi. Negara sekaligus berperan penting untuk member sanksi tegas pada perilaku seks bebas yang menyebabkan potensi penularan HIV/AIDS.

Dalam Islam, negara berkewajiban mengawal penerapkan hukum-hukum pergaulan yang disyariatkan Allah SWT. seperti: perintah baik kepada laki-laki maupun perempuan agar menundukkan pandangannya serta memelihara kemaluannya (QS an-Nûr [24]: 30-31); perintah agar memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan serta mencegah ikhtilat (campur baur); mendorong yang mampu untuk segera menikah, bagi yang belum mampu menikah, maka agar mereka memiliki sifat ‘iffah (senantiasa menjaga kehormatan) dan mampu mengendalikan diri (nafsu); larangan bagi kaum perempuan untuk ber-tabarruj (QS an-Nûr [24]: 60); larangan bagi laki-laki dan perempuan untuk saling berpegangan tangan atau berciuman karena bisa membangkitkan naluri seksual dan mendekati zina (QS. Al Isra [17] : 32); memberi sanksi kepada semua pelaku yang terbukti merusak tatanan pergaulan baik dengan tindakan maupun dengan memunculkan berbagai media dan sarana kepornoan.

Dari paparan di atas, diperlukan sinergi dari segenap masyarakat dan juga institusi yang lebih besar guna mengawal perlindungan masa depan remaja ini. Lingkungan tempat hidup remaja haruslah kondusif ke arah kebaikan. Warga saling proaktif, saling peduli untuk mengingatkan dan mencegah dari keburukan. Tanpa kepedulian dari masyarakat, upaya keluarga bisa jadi sia-sia belaka, apalagi jika sistemnya cenderung jauh dari Islam. Harus ada aktivitas di tengah masyarakat untuk mengawal lingkungan Islami bagi generasinya, langkah awal yang bisa ditempuh adalah dengan membiasan para remaja mengikuti pembinaan kepribadian intensif dalam kajian mingguan yang terarah dan terencana. Jika selama ini memang belum ditemukan lingkungan ideal untuk membentengi remaja, maka itulah yang harus diperjuangkan dengan serius dan sungguh-sungguh.

*Penulis:
Arin RM
Kontributor FP @infomuslimahjember, anggota ForKaMI


MOHON DISHARE YA