Tingkah Generasi Makin Brutal, Salah Siapa?


KabarPos.Com - Tragis! Bukannya mengukir prestasi, generasi jaman now justru bikin sensasi, alias “ngrampok”. Dulu pelaku kejahatan selalu disematkan pada sosok tinggi besar, menyeramkan, berjenggot, rambut gondrong, berkalung rantai juga asumsi yang jamak dipahami masyarakat umum lainnya.

Namun kini, yang demikian sudah gak jaman lagi. Karena akhir tahun ini, catatan kriminal justru diperankan oleh sejumlah komplotan remaja bersenjata tajam yang menjarah toko pakaian secara brutal di kota Depok. Secara membabi buta mereka berani mengacungkan senjata tajam, dan dalam waktu singkat menjarah puluhan pakaian, mulai dari jaket, celana, kaos dan lain sebagainya (Okezone.Com). Aksi yang dipertontonkan mirip adegan perampok professional.

Sulit dibayangkan, kejadian menunjukkan pukul 04.42 WIB. Berarti sekitar waktu subuh. Jam sekian seharusnya remaja ini masih ada di rumahnya masing-masing dalam dekapan ayah bunda. Bukan malah kelayapan. Timbul segudang pertanyaan, dimana orang tuanya? Apakah tidak mencari si anak yang semalaman tidak kunjung pulang?

Kalaupun berangkat menjelang subuh, tidakkah ditanya hendak kemana? Dari mana mereka mendapatkan senjata tajam? Apakah sebelum merampok mereka sudah melakukan rapat koordinasi untuk memuluskan rencananya? Siapa pencetus ide bejatnya? Entahlah, yang pasti tindakan brutal itu cukup menghebohkan masyarakat tentunya. Karena pelakunya masih “remaja”. Catat!!

Masih berupa pertanyaan publik sebagai wujud penasaran dan kebingungan. Lantas kebrutalan remaja yang membabi buta ini salah siapa? Pihak mana yang harus bertanggungjawab atas hancurnya generasi ini? Dari berbagai referensi yang sering nongol di deretan sosmed. Kajian penulis mengkerucut pada 4 hal.

Diantaranya adalah lemahnya keimanan individu remaja, keluarga yang tidak Islami, lemahnya kontrol masyarakat, negara yang abai pada generasi. Secara internal, keimanan generasi sangat lemah. Lemahnya keimanan tentu dipicu dari keluarga yang tidak Islami serta tidak memiliki visi keluarga ideologis.

Keluarga seharusnya pihak pertama yang menanamkan iman yang kuat terhadap putra-putrinya, sehingga mampu bertahan menghadapi gempuran liberalisasi yang semakin massif. Namun, kini peran tersebut terasa nihil lantaran keluarga juga tersibukkan dengan aktivitas masing-masing.

Sementara masyarakat yang seharusnya menjadi kontrol social, juga absen dari tugasnya, tak lain karena masyarakat saat ini memelihara sikap permissive dan individualis yang melahirkan sikap acuh terhadap realita yang ada di sekitarnya. Terakhir, faktor yang menjadi pihak penghancur generasi adalah abainya peran negara.

Negara saat ini seperti lupa atau memang sengaja menutup mata. Sudah berapa banyak korban kerusakan generasi mulai seks bebas, miras, narkoba, tawuran, pengidap HIV/AIDS, aborsi, menjadi pembunuh dan saat ini mereka secara terang-terangan belajar menjadi perampok. Negara justru tampil memperkenalkan bahkan memaksakan virus sekulerisme secara komprehensif kepada masyarakat, terutama generasi.

Sekulerisme melarang agama masuk dalam dunia remaja. Paham inilah yang merobek-robek batas-batas kebenaran sehingga menjadi kabur. Kebebasan menjadi barang yang laris dipromosikan oleh negara melalui berbagai tayangan yang sangat mudah diakses generasi. Melalui tontonan mereka jadikan sebagai tuntunan. Mereka belajar hidup bebas, mengikuti trend masa kini yang jauh dari nilai Islam justru bahkan bertentangan, menggandrungi gaya hidup konsumtif, mengekspresikan diri sebagai bentuk prestasi.

Potensi besar yang terkandung dalam dirinya diserahkan secara sukarela dalam jurang kehancuran. HAM menjadi tameng dari gelagat untuk dibenarkan sebagai usia yang sedang mencari jati diri. Diilhami sebagai bentuk kewajaran. Dalam pendidikan, liberalisme dipakai sebagai model berfikir yang “katanya ilmiah”.

Islam layak menjadi pilihan solusi terbaik untuk generasi. Bukan hanya mengajarkan ritual, tetapi seluruh aspek kehidupan. Dalam cacatan sejarah kesempurnaan Islam terbukti telah mampu menghantarkan generasi yang awalnya ummi (buta huruf) dan jahiliyah (bodoh dan rusak) menjadi generasi utama dan pelopor kemajuan kehidupan. Bahkan kejayaannya bertahan hingga berabad-abad lamanya melintasi samudra dan benua, 2/3 dunia menjadi saksi kegemilangannya. Lahirnya generasi sholih dan muslih dari rahim Islam melalui berdayanya peran keluarga, masyarakat dan negara.

Keluarga bertanggungjawab menanamkan akidah yang kokoh, masyarakat menjadi peduli dengan lingkungan sekitarnya, dan negara memastikan keluarga serta masyarakat memainkan perannya dengan memberikan bekal serta edukasi. Negara juga mengambil hukum terbaik dari Dzat yang Maha Sempurna untuk mengurus seluruh masyarakat, karena dialah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.

Ibn Umar r.a berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya.

Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya.

Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) dari hal-hal yang dipimpinnya. (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu’alam bi ash-showab.

*Oleh : Puput Hariyani, S.Si (Pemerhati Pendidikan dan Remaja/Staf Pengajar salah satu SMK di Jember)

MOHON DISHARE YA