Tantangan Pejuang Islam Zaman Now


Oleh: Novia Roziah*

Memilih menjadi pejuang islam bukan keputusan yang mudah, namun meninggalkan pilihan ini bukan berarti hidup kita akan menjadi lebih mudah. Karena dengan menjadi pejuang islam kita di gembleng untuk menjadi hamba Allah yang mukhlis dan tangguh menghadapi segala macam problematika kehidupan. Tidak berhenti disitu, dengan menjadi pejuang islam kita akan mendapat kesempatan untuk mengamalkan salah satu kewajiban sebagai seorang muslim yakni menjalankan amar ma’ruf nahyi mungkar.

Mengapa sulit. Saat kita ber amar ma’ruf artinya mengajak orang berbuat kebaikan. contohnya seperti, mengajak orang untuk melaksanakan sholat, puasa, dll . Ajakan kebaikan ini memang sesuai dengan fitrah manusia, yakni ingin memiliki hablumminallah( hubungan dengan Allah) yang baik. maka sebringas apapun, jika dinasehati untuk memperbaiki ibadah dia akan menerima, minimal dia akan diam.

Namun saat menjalankan nahyi mungkar, yakni mencegah kemungkaran, tantangan yang dihadapi akan menjadi lebih besar. Mengapa? Karena pada hakikatnya, kita mengajak orang yang sedang bermaksiat dan melakukan kemungkaran kemudian menasehatinya untuk meninggalkan kemaksiatan serta kemungkaran itu. Ini menyentuh ranah hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia yang lain).

Contohnya kita mengajak orang untuk tidak merayakan malam pergantian tahun atau acara tahun baruan. Saat kita menjelaskan tentang fakta perayaan tahun baru, segala pernak perniknya yang merupakan perbuatan tasyabbuh, maka pandangan masyarakat terhadap perayaan tahun baru yang awalnya mereka anggap sebagai sesuatu yang lumrah dan kekinian ditengah masyarakat, menjadi berubah 180 derajat.

Perayaan tahun baru itu perbuatan menyerupai perayaan orang kafir, apalagi jika dikuatkan dengan dalil dari ibnu ‘Umar Ra bahwasanya Rasulullah bersabda “ barangsiapa menyerupai suatu kaum, makai a termasuk bagian dari kaum tersebut” (HR. Imam Ahmad).

Bagi sebagian orang ajakan untuk memilki hablum minannas yang sesuai dengan aturan islam Ini akan diterima dengan baik, namun seringkali ajakan ini akan menjadi boomerang bagi sang pengemban dawah. Dia akan dibenci, dia akan ditinggal, dia akan dikucilkan

Penyebab sikap permusuhan ini adalah karena kehidupan masyarakat kita tidak didukung dengan suasana penerapan islam secara kaffah. Sistem kehidupan yang berkembang saat ini adalah sistem kehidupan sekular atau lebih dikenal dengan sekularisme. Sekularisme inilah yang mengakibatkan masyarakat memilki pandangan untuk urusan ibadah kita memang harus sesuai dengan islam. Tapi untuk urusan publik, mereka merasa memiliki kebebasan untuk mengatur semua urusan terkait pemenuhan kehidupannya.

Memang menjadi pejuang islam di era sekularisme, akan menghadapi tantangan yang lebih besar. Namun berpeluang mendapatkan pahala yang lebih besar pula.

Dari Anas Ra. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang berpegang teguh (sabar) diantara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api (HR. Tirmidzi)

Maksudnya disini adalah akan tiba suatu masa dimana orang yang hendak mengamalkan ajaran Rasulullah (Islam) , dia akan menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat hebat. Jika dia tidak bersungguh-sungguh, pasti agamanya akan terlepas dari genggamannya.

Ini disebabkan keadaan sekelilingnya penuh dengan kondisi yang berseberangan dari agamanya, bahkan cenderung mendorong untuk berbuat kemaksiatan yang dapat meruntuhkan aqidah dan keimanan.

Oleh karena itu,meski menjadi pejuang islam zaman now memilki tantangan yang besar. Harus tetap diyakini, dengan menjadi pejuang islam kita akan menjadi orang yang selamat dan bisa menyelamatkan manusia yang lain dari kekufuran. insyaAllah.
Wallahu a’lam bisshowab

*(Ibu Rumah Tangga, Komunitas Revowriter – Jember)

MOHON DISHARE YA