Katanya Toleransi? Kritik Keras Soal Pelarangan Cadar di Universitas!


Oleh : Firda Umayah, S.Pd

Beberapa waktu lalu, dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan pelarangan penggunaan cadar bagi mahasiswi di kampus negeri. Sebab, pelarangan tersebut justru berasal dari beberapa kampus yang bernotabene Islam seperti UIN Kalijaga Jogjakarta (viva.com) dan UIN Sunan Ampel Surabaya (kelanakota.suarasurabaya.net).

Padahal, keberadaan mahasiswi bercadar di kampus tersebut bukanlah kali pertama. Bahkan terdapat pula mahasiswi peraih beasiswa dari luar Indonesia yang memakai cadar dalam kampus tersebut.

Hal ini tentu berbalik arah dengan pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim pada bulan agustus tahun lalu. Beliau mengatakan bahwa penggunaan cadar harus dihargai (kemenag.go.id). Sehingga, pelarangan cadar meskipun dengan alasan akademik merupakaan penodaan dalam toleransi beragama. Lantas, bagaimana kita menyikapinya?

Menurut wikipedia, toleransi berarti saling menghargai. Toleransi dapat dilakukan antar kelompok atau kelompok dengan individu. Toleransi juga bermakna “membiarkan” seseorang dalam beraktivitas. Sehingga, toleransi beragama memiliki makna membiarkan seseorang beraktivitas sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing. Termasuk dalam bercadar, maka seorang muslimahpun seharusnya diberikan hak dalam menggunakannya. Namun, toleransi beragama secara total dalam sistem saat ini nampaknya memang sulit.

Bagaimana tidak? Kita dapat melihat adanya kasus pelarangan cadar dan beberapa kasus lalu terkait kriminalisasi ulama yang sempat terjadi di Indonesia merupakan buktinya. Beberapa penceramah dilarang untuk memberikan tausiyah. Bahkan sempat terjadi pembubaran pengajian oleh sebagian oknum masyarakat. Semua itu adalah hal yang wajar ketika negara menjadikan paham sekuler sebagai landasan berpikir. Sebab, paham ini memisahkan agama dalam kehidupan. Sehingga dalam ranah publik, agama tidak boleh dijadikan sebagai pedomannya.

Hal ini jelas berbeda dengan pandangan Islam. Sekalipun dalam Islam tidak menjadikan wajah sebagai bagian dari aurot yang harus ditutupi. Namun, adanya pandangan bahwa seorang muslimah lebih memilih untuk menggunakan cadar juga harus kita hargai. Sebab, hal itu merupakan bagian rahmat dalam Islam. Islam membolehkan seorang Muslim untuk mengambil salah satu mazhab sebagai pedoman dalam beraktivitas selama tidak bertentangan dengan al-quran dan as-sunah.


Bahkan keberlangsungan aktivitas tersebut juga dijamin oleh negara. Negara Islam menjamin serta melindungi semua warga negara dalam melaksanakan ibadah spiritual mereka. Saling menghargaipun sangat nampak di dalam masyarakat Islam. Hal ini telah terbukti dalam sejarah sejak Rasulullah saw mendirikan negara Islam pertama di Madinah yang dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah.

Termasuk dalam dunia pendidikan, Khilafah Islam membiarkan tiap mahasiswanya mengenakan identitas agama mereka. Edukasi dan penanaman tsaqafah Islam juga diberikan kepada masyarakat agar masyarakat mengetahui batasan-batasan aktivitas yang boleh dilakukan atau tidak.

Sehingga, nampak sekali bahwa Islam adalah agama pembawa rahmat bagi semua umat manusia. Semua itu hanya bisa terjadi ketika agama Islam diterapkan secara kaffah (menyeluruh) dengan tegaknya negara Islam melalui institusi Khilafah Islamiyah.

Sejarah telah mencatat bahwa Khilafah Islam telah berhasil melakukan peleburan bangsa-bangsa yang sebelumnya belum pernah terjadi. Semua itu terjadi selama 13 abad. Sebuah waktu yang cukup lama bagi sebuah peradaban yang sampai sekarang belum ada yang mengalahkannya.

Subscribe to receive free email updates: